Traveling ke Eropa sering identik dengan:
museum.
Bangunan tua.
Katedral.
Jalan berbatu.
Dan tentu:
foto sebanyak mungkin.
Tetapi ada satu cara sederhana untuk mengenal sebuah kota tanpa harus masuk ke tempat wisata:
makan.
Bukan selalu di restoran mahal.
Justru kadang makanan yang paling mudah diingat ditemukan di kios kecil, bakery lokal, pasar, atau kedai yang hanya mempunyai beberapa:
menu.
Setiap negara punya comfort food sendiri.
Ada yang:
digoreng.
Dipanggang.
Dibungkus roti.
Disiram saus.
Atau cukup dimakan sambil berdiri di pinggir:
jalan.
Kalau sedang merencanakan perjalanan kuliner, berikut beberapa street food Eropa yang menarik masuk ke daftar.
1. Currywurst — Jerman
Bayangkan:
sosis panggang.
Dipotong kecil.
Kemudian diberi saus tomat berbumbu curry.
Sederhana?
Banget.
Tetapi currywurst sudah lama menjadi salah satu makanan jalanan yang sangat dikenal di:
Jerman.
Makanan ini sangat erat dengan:
Berlin.
Biasanya disajikan bersama:
kentang goreng.
Rasanya kombinasi:
gurih,
sedikit manis,
asam,
dan aroma:
curry.
Cocok ketika sedang jalan kaki seharian dan butuh makanan yang cepat sekaligus:
mengenyangkan.
2. Pastel de Nata — Portugal
Ini salah satu makanan yang kelihatannya kecil tetapi sangat mudah membuat orang berkata:
“Satu lagi deh.”
Pastel de nata merupakan pastry dengan bagian luar:
renyah,
sementara bagian tengahnya berisi custard yang:
lembut.
Bagian atasnya biasanya sedikit:
karamelisasi.
Dimakan ketika masih hangat?
Lebih:
nikmat.
Tambahkan sedikit:
cinnamon.
Kemudian kopi.
Sudah.
Breakfast sederhana di Portugal bisa berubah menjadi salah satu bagian paling menyenangkan dari:
perjalanan.
3. Crêpe — Prancis
Crêpe mungkin bukan makanan yang asing.
Tetapi memakannya langsung ketika sedang berjalan di:
Prancis
tentu mempunyai pengalaman yang:
berbeda.
Versi manis bisa berisi:
gula.
Chocolate spread.
Buah.
Caramel.
Sedangkan versi savory bisa menggunakan:
keju,
ham,
telur,
atau kombinasi lainnya.
Salah satu versi paling sederhana?
Butter dan:
sugar.
Tidak rumit.
Tetapi justru itu yang membuatnya:
enak.
4. Belgian Fries — Belgia
Kentang goreng?
“Di mana-mana juga ada.”
Benar.
Tetapi di Belgia, fries mempunyai tempat khusus dalam budaya:
makanan.
Potongan kentangnya biasanya lebih:
tebal.
Bagian luar:
crispy.
Bagian dalam:
lembut.
Dan bagian paling menyenangkan?
Pilihan:
saus.
Mayonnaise merupakan salah satu pasangan klasik.
Tetapi banyak kios menawarkan berbagai pilihan saus lain yang membuat kentang sederhana terasa:
berbeda.
Biasanya disajikan dalam paper:
cone.
Praktis dimakan sambil:
jalan.
5. Langos — Hungaria
Kalau suka makanan:
goreng,
keju,
dan sesuatu yang tidak terlalu peduli dengan konsep:
diet,
langos menarik untuk:
dicoba.
Dasarnya adalah adonan yang:
digoreng.
Kemudian topping klasiknya bisa berupa:
garlic,
sour cream,
dan:
cheese.
Hasilnya?
Crispy di luar.
Soft di:
dalam.
Rich.
Gurih.
Dan cukup berat.
Ini bukan snack yang setelah dimakan membuat Anda bertanya:
“Makan apa lagi ya?”
Kemungkinan besar justru:
“Kayaknya gue duduk dulu.”
6. Arancini — Italia
Italia terkenal dengan:
pizza.
Pasta.
Gelato.
Tetapi kalau ingin sesuatu yang praktis?
Cari:
arancini.
Arancini adalah bola nasi yang biasanya mempunyai:
isian,
kemudian dilapisi breadcrumbs dan:
digoreng.
Bagian luar:
crispy.
Bagian dalam:
lembut.
Isiannya bisa berbeda-beda.
Misalnya:
ragù.
Cheese.
Mushroom.
Atau variasi lokal:
lain.
Sangat cocok sebagai makanan cepat ketika sedang eksplor kota.
7. Churros — Spanyol
Churros sebenarnya sangat:
sederhana.
Adonan:
digoreng.
Kemudian sering diberi:
gula.
Tetapi pengalaman churros menjadi jauh lebih menarik ketika ditemani:
hot chocolate kental.
Celup.
Makan.
Ulangi.
Untuk breakfast?
Bisa.
Snack sore?
Bisa.
Malam setelah jalan-jalan?
Juga:
bisa.
Salah satu makanan yang membuktikan bahwa sesuatu tidak harus kompleks untuk menjadi:
memuaskan.
8. Souvlaki — Yunani
Kalau mencari sesuatu yang lebih:
savory,
souvlaki merupakan pilihan yang sulit untuk:
ditolak.
Potongan daging dipanggang menggunakan:
skewer.
Kemudian bisa dimakan langsung atau disajikan dengan:
pita.
Tambahkan:
tomat.
Onion.
Sauce.
Kadang:
fries.
Sekarang Anda punya makanan yang praktis tetapi cukup:
lengkap.
Aroma daging yang baru selesai dipanggang juga membuat kios souvlaki sangat sulit dilewati begitu:
saja.
9. Trdelník — Eropa Tengah
Anda mungkin pernah melihat makanan berbentuk seperti:
silinder
di foto-foto kota Eropa.
Adonan dililitkan pada alat berbentuk:
tabung,
kemudian dipanggang sampai permukaannya:
golden.
Setelah itu bisa diberi:
gula,
cinnamon,
nuts,
atau topping modern lainnya.
Trdelník sangat populer di kawasan wisata tertentu di Eropa Tengah, terutama sering terlihat di:
Praha.
Namun ada catatan menarik.
Walaupun sangat diasosiasikan wisatawan dengan Praha, sejarah makanan ini tidak sesederhana menyebutnya sebagai makanan tradisional asli:
Praha.
Jadi nikmati makanannya.
Tetapi jangan heran kalau warga lokal memberikan penjelasan sejarah yang sedikit lebih:
panjang.
10. Burek — Balkan
Burek adalah salah satu makanan yang sangat cocok untuk:
breakfast.
Lunch cepat.
Atau:
snack berat.
Pastry berlapis dengan berbagai:
isian.
Daging.
Cheese.
Spinach.
Dan variasi lain tergantung tempat Anda:
membelinya.
Bagian luar biasanya:
flaky.
Bagian dalam:
savory.
Di beberapa wilayah Balkan, burek mempunyai tradisi dan definisi lokal yang cukup:
serius.
Jadi hati-hati kalau mengatakan semua pastry berbentuk mirip adalah:
sama.
Bisa memulai diskusi kuliner yang jauh lebih panjang dari:
rencana.
11. Poffertjes — Belanda
Bayangkan pancake.
Sekarang buat ukurannya:
kecil.
Sangat:
kecil.
Itulah gambaran sederhana:
poffertjes.
Biasanya disajikan dalam jumlah beberapa buah sekaligus dengan:
butter
dan:
powdered sugar.
Teksturnya lembut dan sedikit:
fluffy.
Karena ukurannya kecil?
Bahaya.
Anda bisa makan satu.
Kemudian:
dua.
Kemudian lima.
Tiba-tiba piring:
kosong.
Makanan ini sering ditemukan di pasar atau event tertentu dan sangat cocok kalau ingin sesuatu yang:
manis.
12. Döner Kebab — Jerman
Yang satu ini punya cerita:
menarik.
Döner berasal dari tradisi kuliner:
Turki.
Tetapi versi sandwich döner yang sangat populer sekarang mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan komunitas Turki di:
Jerman,
khususnya Berlin.
Daging dipotong dari vertical:
rotisserie.
Masuk ke:
bread.
Ditambah:
vegetables.
Sauce.
Hasilnya?
Murah relatif terhadap banyak makanan restoran.
Cepat.
Mengenyangkan.
Dan tersedia di banyak:
tempat.
Untuk traveler yang pulang larut setelah seharian eksplor kota?
Döner bisa terasa seperti:
penyelamat.
Kenapa Street Food Menarik Saat Traveling?
Ada satu keuntungan besar dari makanan kaki lima Eropa:
kita tidak harus membuat acara makan menjadi:
formal.
Tidak perlu:
reservation.
Tidak perlu duduk selama:
dua jam.
Kadang cukup datang.
Order.
Bayar.
Kemudian makan sambil melanjutkan:
perjalanan.
Untuk itinerary yang padat?
Praktis.
Tetapi ada alasan lain yang lebih:
menarik.
Street food sering menunjukkan makanan yang memang dekat dengan kehidupan sehari-hari:
masyarakat.
Bukan hanya makanan yang dibuat khusus untuk:
turis.
Jangan Hanya Makan di Dekat Landmark
Ini salah satu kebiasaan traveler.
Keluar dari landmark.
Lapar.
Lihat restoran tepat di depan.
Masuk.
Tidak selalu:
buruk.
Tetapi area wisata utama biasanya mempunyai harga lebih:
tinggi.
Dan kualitasnya belum tentu:
terbaik.
Coba jalan beberapa blok lebih:
jauh.
Masuk ke jalan yang sedikit lebih:
lokal.
Lihat tempat yang ramai oleh:
penduduk.
Kadang perbedaan harga dan kualitasnya cukup:
besar.
Pasar Lokal Bisa Jadi Tempat Terbaik untuk Mulai
Kalau baru tiba di sebuah kota dan bingung ingin mencoba makanan:
apa,
cari:
market.
Food market.
Traditional market.
Weekend market.
Banyak pasar mempunyai berbagai penjual dalam satu:
lokasi.
Artinya Anda bisa mencoba beberapa makanan tanpa harus berpindah terlalu:
jauh.
Bonus?
Pasar juga menarik untuk melihat bahan makanan dan kebiasaan belanja masyarakat:
lokal.
Jangan Takut Masuk Bakery Kecil
Di banyak kota Eropa, bakery bisa menjadi tempat mendapatkan breakfast yang:
murah.
Croissant.
Bread.
Pastry.
Sandwich.
Coffee.
Tidak harus selalu breakfast hotel atau cafe:
Instagrammable.
Kadang bakery kecil di sudut jalan justru memberikan pengalaman yang lebih:
memorable.
Apalagi kalau aroma roti baru dipanggang sudah tercium dari luar.
Sulit:
menolak.
Cari Tempat yang Menjual Sedikit Menu
Ada kios dengan:
60 menu.
Ada juga kios yang hanya menjual:
tiga.
Yang kedua sering:
menarik.
Kenapa?
Karena kemungkinan mereka membuat makanan yang sama berulang kali setiap:
hari.
Spesialisasi tidak otomatis berarti:
bagus.
Tetapi kalau sebuah tempat bertahun-tahun hanya menjual satu atau dua jenis makanan dan tetap ramai?
Ada kemungkinan mereka tahu apa yang sedang mereka:
lakukan.
Antrean Lokal Bisa Menjadi Petunjuk
Ada dua jenis:
antrean.
Antrean karena viral di:
TikTok.
Dan antrean karena warga sekitar memang:
makan di sana.
Kalau melihat pekerja lokal, pelajar, atau penduduk sekitar terus datang ke satu tempat?
Perhatikan.
Bisa menjadi:
signal.
Terutama kalau harga terlihat normal dan menu tidak dibuat khusus untuk:
turis.
Pelajari Sedikit Nama Makanan Lokal
Tidak harus belajar bahasa baru sebelum setiap:
perjalanan.
Tetapi mengetahui beberapa kata dasar sangat:
membantu.
Misalnya:
chicken.
Beef.
Pork.
Cheese.
Vegetarian.
Spicy.
Water.
Dan tentu:
thank you.
Selain mempermudah order, usaha kecil menggunakan bahasa lokal biasanya mendapat respons yang cukup:
positif.
Walaupun pronunciation kita:
berantakan.
Bawa Cash Secukupnya
Pembayaran card semakin umum di:
Eropa.
Tetapi kios kecil, market, atau vendor tertentu masih mungkin lebih nyaman menerima:
cash.
Tidak perlu membawa uang tunai:
berlebihan.
Cukup sedikit sebagai:
backup.
Terutama ketika mengunjungi pasar atau kota yang lebih:
kecil.
Jangan Langsung Order Porsi Besar
Kalau tujuan perjalanan adalah mencoba banyak:
makanan,
strateginya jangan:
satu tempat = makan sampai kenyang.
Share.
Pesan porsi:
kecil.
Coba.
Kemudian pindah.
Kalau traveling berdua?
Lebih:
mudah.
Satu porsi bisa dibagi.
Dengan begitu dalam satu hari Anda mungkin mencoba empat atau lima makanan berbeda tanpa merasa harus digulingkan kembali ke:
hotel.
Makanan Populer Belum Tentu Favorit Anda
Ada makanan yang semua orang bilang:
“WAJIB COBA!”
Anda coba.
Kemudian:
“Oh… gini doang?”
Normal.
Taste sangat:
personal.
Tujuan mencoba makanan lokal bukan memaksa diri menyukai:
semuanya.
Justru bagian menyenangkan dari culinary travel adalah menemukan:
favorit sendiri.
Bisa jadi makanan yang paling Anda ingat bukan yang terkenal di internet.
Tetapi pastry random dari bakery kecil yang bahkan namanya sudah:
lupa.
Jangan Menilai dari Penampilannya Saja
Beberapa street food:
cantik.
Beberapa?
Tidak terlalu:
photogenic.
Saus ke mana-mana.
Bread bentuknya:
random.
Cheese meleleh.
Packaging sederhana.
Tetapi rasa?
Bisa luar:
biasa.
Travel food tidak selalu harus masuk:
Instagram.
Kadang harus langsung masuk:
mulut.
Perhatikan Jam Makan Lokal
Jam makan tidak selalu sama di setiap:
negara.
Ada tempat di mana dinner jam:
18.00
normal.
Ada tempat di mana jam segitu restoran bahkan masih terasa:
sepi.
Memahami sedikit kebiasaan lokal membantu menghindari datang ketika:
tutup,
belum buka,
atau kitchen sedang:
break.
Terutama untuk restoran kecil yang tidak beroperasi nonstop sepanjang:
hari.
Coba Satu Makanan yang Belum Pernah Didengar
Biasanya kita datang dengan:
list.
Pizza.
Croissant.
Waffle.
Churros.
Gelato.
Semua sudah:
dikenal.
Tetapi ketika melihat menu dengan nama yang sama sekali asing?
Coba satu.
Tanya penjual:
“What is this?”
Kalau terdengar menarik?
Order.
Kadang makanan terbaik dalam perjalanan datang dari sesuatu yang bahkan tidak ada di:
itinerary.
Street Food Tidak Selalu Berarti Murah
Ini penting.
Istilah:
street food
sering diasosiasikan dengan:
murah.
Tetapi di kawasan wisata populer?
Belum tentu.
Vendor di pusat kota atau event besar bisa mempunyai harga mendekati:
restoran.
Jadi tetap lihat:
harga.
Terutama sebelum menambahkan topping yang ternyata masing-masing punya biaya:
tambahan.
Snack €5 bisa berubah menjadi €12 dengan sangat:
cepat.
Waspadai Tempat yang Tidak Menampilkan Harga
Kalau tidak ada:
harga,
tanya dulu.
Simple:
“How much?”
Jangan menunggu setelah makanan sudah dibuat baru mengetahui:
harganya.
Ini berlaku terutama di area wisata yang sangat:
ramai.
Transparansi harga membuat pengalaman jauh lebih:
nyaman.
Food Tour Bisa Worth It
Kalau benar-benar suka:
kuliner,
pertimbangkan mengikuti:
food tour.
Guide lokal biasanya membawa peserta ke beberapa:
tempat,
menjelaskan sejarah makanan,
dan membantu menemukan sesuatu yang mungkin sulit diketahui sendiri.
Keuntungannya bukan hanya:
makan.
Tetapi:
context.
Kenapa makanan ini populer?
Dari mana asalnya?
Kapan biasanya dimakan?
Apa versi tradisionalnya?
Informasi seperti itu membuat makanan terasa lebih:
bermakna.
Tetapi Self-Guided Food Tour Juga Bisa Seru
Budget terbatas?
Buat sendiri.
Pilih satu:
neighborhood.
Cari:
bakery.
Market.
Street stall.
Cafe.
Dessert.
Kemudian jalan dari satu tempat ke tempat:
lain.
Buat aturan:
satu item per tempat.
Dalam beberapa jam Anda sudah punya mini culinary tour versi:
sendiri.
Dan kemungkinan menemukan tempat random yang tidak muncul di itinerary:
awal.
Jangan Lupa Minuman Lokal
Fokus makanan sering membuat traveler lupa:
minuman.
Setiap daerah juga punya budaya:
coffee,
tea,
soft drink,
atau minuman tradisional tertentu.
Tidak harus selalu:
alkohol.
Cari minuman non-alkohol lokal di:
supermarket,
cafe,
atau market.
Kadang packaging-nya saja sudah cukup menarik untuk:
dicoba.
Supermarket Juga Bisa Menjadi Destinasi Kuliner
Ini salah satu aktivitas travel paling:
underrated.
Masuk:
supermarket.
Lihat snack lokal.
Chocolate.
Yogurt.
Cheese.
Bread.
Drinks.
Instant food.
Hal-hal biasa bagi penduduk lokal bisa terasa sangat baru bagi:
traveler.
Dan harganya?
Biasanya jauh lebih bersahabat daripada souvenir shop di dekat:
landmark.
Bonusnya Anda bisa membeli snack untuk perjalanan kereta atau kembali ke:
hotel.
Jangan Lupakan Food Safety
Mencoba makanan baru memang:
seru.
Tetapi tetap gunakan common:
sense.
Perhatikan apakah makanan panas disajikan:
panas.
Apakah tempat terlihat:
bersih.
Apakah bahan disimpan dengan:
layak.
Apakah makanan tampak sudah terlalu lama:
dibiarkan.
Kalau perut sensitif?
Jangan langsung melakukan culinary marathon ekstrem pada hari:
pertama.
Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada itinerary:
Paris
berubah menjadi itinerary:
toilet hotel.
Kalau Punya Alergi, Persiapkan Terjemahan
Ini sangat:
penting.
Kalau mempunyai alergi makanan serius, jangan hanya mengandalkan kemampuan menjelaskan dengan:
gesture.
Siapkan kalimat dalam bahasa lokal yang menjelaskan alergi dengan:
jelas.
Misalnya alergi:
nuts.
Shellfish.
Milk.
Egg.
Atau bahan:
lain.
Simpan di:
HP.
Lebih bagus lagi kalau bisa ditunjukkan langsung kepada:
penjual.
Kuliner memang bagian menyenangkan dari travel.
Tetapi safety tetap:
prioritas.
Berapa Budget untuk Street Food?
Tergantung:
negara.
Kota.
Lokasi.
Dan jenis:
makanan.
Harga makanan di pusat Paris tentu bisa berbeda dengan kota kecil di negara:
lain.
Daripada menetapkan satu angka untuk seluruh Eropa, buat:
daily food budget.
Misalnya dibagi menjadi:
breakfast.
Lunch.
Snack.
Dinner.
Kemudian tentukan satu atau dua meal yang ingin:
splurge.
Sisanya?
Bakery.
Market.
Street food.
Supermarket.
Dengan cara ini Anda tetap bisa menikmati kuliner tanpa setiap makan harus menjadi:
fine dining.
Jangan Hanya Mengejar “Authentic”
Internet suka kata:
AUTHENTIC.
Tetapi makanan selalu:
berkembang.
Migrasi.
Budaya.
Generasi baru.
Bahan baru.
Semua memengaruhi bagaimana sebuah kota:
makan.
Döner di Berlin adalah contoh menarik bagaimana budaya kuliner bisa berkembang melalui komunitas:
migran.
Jadi daripada terus bertanya:
“Apakah ini 100% authentic?”
Kadang pertanyaan yang lebih menarik adalah:
“Kenapa orang di kota ini suka makan ini?”
Jawabannya bisa memberikan gambaran budaya yang jauh lebih:
luas.
Foto Makanan, Tapi Jangan Sampai Dingin
Makanan datang.
Ambil:
HP.
Foto atas.
Foto samping.
Video.
Zoom.
Portrait.
Story.
Reels.
Sekarang?
Makanannya sudah:
dingin.
Ambil satu atau dua foto kalau:
mau.
Kemudian:
makan.
Beberapa makanan terutama:
fries,
fried food,
dan pastry
jauh lebih enak ketika masih:
fresh.
Instagram bisa:
menunggu.
Kentang goreng tidak:
bisa.
Makanan Bisa Menjadi Memori Perjalanan Terkuat
Beberapa tahun setelah:
traveling,
mungkin kita lupa nama jalan yang:
dilewati.
Lupa nomor:
hotel.
Lupa museum dikunjungi hari:
apa.
Tetapi anehnya kita masih bisa:
ingat…
bau bakery di pagi hari.
Kentang goreng yang dimakan sambil berdiri.
Kopi kecil di cafe.
Pastry hangat ketika hujan.
Atau kebab tengah malam setelah berjalan:
20.000 langkah.
Itulah yang membuat culinary travel:
menarik.
Makanan bukan hanya:
makanan.
Ia menjadi bagian dari:
tempat.
Suasana.
Cuaca.
Orang.
Dan momen.
Jadi, Street Food Mana yang Harus Dicoba Dulu?
Tidak ada jawaban:
benar.
Kalau suka:
manis?
Mulai dari:
pastel de nata,
churros,
atau:
poffertjes.
Kalau mencari sesuatu yang:
mengenyangkan?
Coba:
döner,
souvlaki,
langos,
atau:
burek.
Kalau ingin sesuatu yang simpel?
Belgian fries.
Kalau ingin snack khas ketika eksplor kota?
Arancini atau:
crêpe.
Yang penting jangan membuat perjalanan kuliner menjadi checklist yang terlalu:
kaku.
Gunakan daftar street food Eropa sebagai:
inspirasi.
Kemudian ketika sampai di sana?
Lihat.
Cium.
Tanya.
Coba.
Karena salah satu bagian terbaik dari traveling adalah menemukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kita rencanakan untuk:
dimakan…
lalu justru menjadi makanan yang paling kita:
ingat.
